Sayap Malam Terbentang Pelan
- Rabu, 14 Januari 2026
- Administrator
- 0 komentar
- Dilihat 7 kali
Oleh : Aulia Izzatunnisa Zahrani
Siswa MTsN 5 Kulon Progo
Di bawah bintang-bintang yang bersujud,
datanglah cahaya
yang memecah gelap
tanpa menyakitkan mata siapa pun.
Itu bukan cahaya api,
bukan cahaya lampu,
tapi cahaya risalah
yang hanya dikenali oleh hati-hati yang hidup.
Di malam itu,
ketika dunia seakan berhenti berputar,
Buraq mengangkat sayapnya
mengantar sang Utusan
melintasi batas yang tak dijangkau waktu.
Langit pertama menyambutnya
dengan salam penuh harap,
langit kedua membuka tirai lembutnya,
dan langit ketiga memancarkan
kedamaian yang tak terucap.
Satu per satu,
lapisan langit memuliakan kedatangannya—
seakan semesta tahu
bahwa malam itu bukan malam biasa.
Pada puncak Sidratul Muntaha,
ketika cahaya Tuhan begitu dekat,
hanya Rasulullah yang mampu berdiri,
sementara seluruh makhluk berhenti
hingga batas yang ditentukan-Nya.
Dari pertemuan suci itulah,
turunlah hadiah
yang paling agung untuk manusia: shalat.
Hadiah yang menghubungkan bumi dengan langit,
jiwa dengan Penciptanya,
rindu dengan tempat pulang yang sebenarnya.
Sayap malam kembali tertutup,
cahaya sang Utusan pun turun ke bumi,
mengemban perintah
yang kini mengalir
di setiap sujud hamba-hamba yang mengingat-Nya.
Dan hingga kini,
setiap kita bersujud
adalah gema kecil Mi’raj itu
seakan kita ikut terbang
di sayap malam
menuju cahaya yang sama.
